Ilustrasi Asal Usul Desa Kemiren

Asal Usul Desa Kemiren

Desa Kemiren, adalah destinasi wisata budaya yang memiliki banyak seni tradisional khas Indonesia. Suku Osing adalah masyarakat yang menempati desa wisata adat Kemiren. Di desa ini memiliki kerajinan batik, tenun, seni tradisional tarian dan musik yang luar biasa serta makanan khas Kemiren. Lalu, seperti apa asal usul desa Kemiren?

Sejarah dan Asal Usul Desa Kemiren

Ilustrasi Asal Usul Desa Kemiren
Ilustrasi Asal Usul Desa Kemiren

Sejarah desa Kemiren berasal dari zaman kejatuhan Kerajaan Majapahit. Di mana banyak penduduk mengungsi ke berbagai daerah untuk memulai hidup baru. Para leluhur suku Osing, yang hidup di desa Kemiren kemudian tinggal di bagian timur Jawa bernama Banyuwangi dan segera mendirikan Kerajaan Blambangan.

Suku Osing ini menolak untuk kembali ke kerajaan Majapahit, dan karena itu ia disebut sebagai orang-orang “Osing”, yang dalam bahasa mereka berarti “tidak”. Setelah 200 tahun masa kejayaan Hindu, budaya Budha Hindu Blambangan kemudian digulingkan oleh pertumbuhan Islam yang cepat, yang menyebabkan untuk pemerintahan baru Kerajaan Mataram Islam.

Selama perang kemerdekaan pada tahun 1800-an, desa Cungking adalah tempat orang-orang Osing awalnya berdiam, tetapi Cungking secara bertahap ditinggalkan ketika orang-orang melarikan diri dari pasukan Belanda ke daerah hutan lebat di dekatnya.

Ada begitu banyak pohon Kemiri dan Duren (Durian) yang tumbuh di hutan lebat. Kedua pohon inipun menjadi rumah baru suku Osing. Suku inipun menetap dan menamai desa mereka setelah dua pohon, Kemiri-Duren bergabung sebagai Kemiren.

Tradisi Suku Osing

Sebagai keturunan dari masa lalu yang multibudaya, Osing mengembangkan kebiasaan yang menarik dan kumpulan bahasa yang berbeda dari tetangganya seperti Jawa, Madura dan Bali. Suku Osing bahkan memiliki nada yang menarik untuk menyampaikan bahasa yang lebih hormat dan sopan ketika berkomunikasi kepada orang yang lebih tua.

Sementara jika berkomunikasi kepada yang lebih muda, nada yang digunakan lebih santai untuk menyapa teman-teman mereka. Kepala suku Kemiren menjelaskan tradisi khas suku Osing di mana setiap keluarga memiliki tiga jenis rumah yang dibangun untuk melayani beberapa fungsi.

Atap dua sisi atau Rumah Crocogan adalah garis depan yang digunakan untuk menyambut tamu. Atap empat sisi diberi nama Tikel Balung, yang digunakan sebagai ruang keluarga dan kamar tidur. Atap tiga sisi bernama Baresan yang terletak di belakang dan digunakan sebagai dapur. Pintu masuk Osing biasanya dihiasi dengan ukiran kayu dengan pola tertentu, seperti Kawung.

Upacara tradisional di desa Kemiren lebih berhubungan dengan pertanian. Hal ini disebabkan karena hampir semua orang di desa Kemiren adalah petani. Ketika panen tiba, para petani akan membunyikan angklung dan gendang di sawah.

Kemudian jika para petani menumbuk padi, maka para wanitanya yang membunyikan alu. Sungguh, sangat unik sekali tradisi yang ada di Desa Kemiren.